12/04/2007

Bingung Mau Kasih Judul Apa...

Assalamu’alaikum, yaa akhi wa akhwati fillah. Telah lama ana tak menulis lagi tentang tulisan-tulisan ana di blog ini khususnya disebabkan banyaknya kesibukan yang saat ini ana jalani ditengah sela-sela tugas kuliah yang menumpuk dan mesti melakukan berbagai praktek lapangan untuk melakukan penelitian terhadap masyarakat.

 

Walhamdulillah, qadarallah beberapa saat yang lalu ana pernah sembari melepas kelelahan dikarenakan banyaknya browsingan yang harus dilakukan dalam memenuhi tugas kampus. Dan seperti biasanya ana melakukannya dengan menyambinya membuka halaman Friendster ataupun YM (Yahoo! Messenger). Qadarallah, secara tak sengaja ana berdiskusi dengan seorang ukhti yang ia merupakan salah satu kader partai politik berbasiskan Islam di Indonesia ini. Mulailah kami chat dengan membicarakan hal yang ringan terlebih dahulu, hingga akhirnya kami sempat mencapai titik klimaks yang hampir-hampir menyebabkan terjadi clash. Pembicaraan tersebut berkisar tentang permasalahan politik Islam dan bagaimanakah politik Islam seharusnya itu.

 

Diskusi dilakukan pada hari Senin, tanggal 29 Shafar 1428 H atau dalam masehi pada tanggal 19 Maret 2007, pukul 22.00 malam. Adapun mengapa hasil diskusi ini ana biarkan apa adanya tanpa melakukan edit terlebih dahulu, semata-mata hanyalah untuk menjaga keaslian penulisan diskusi ini dimana nanti antum semua akan mengetahui bahwa awalnya diskusi ini tak bermaksud untuk melakukan debat antar gerakan Islam. Ana transkrip hasil diskusi ini kedalam blog ini semata-mata bukan untuk gaya-gayaan atau merasa paling hebat. Namun, yang ana harapkan para pembaca dapat mengambil ibrah dari hasil diskusi ini, khususnya para aktivis yang menamakan dirinya kader dakwah dan bekerja untuk kemajuan Islam. Dimana hendaklah apa yang akan ia lakukan nantinya didasarkan oleh ilmu dan bashirah yang memadai dan tidak asal serampangan dalam berdakwah. Sebagaimana di dalam QS. Yusuf : 108 :

 

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

 

Adapun ana tidak menampilkan nama teman diskusi ana dengan nama aslinya melainkan dengan nama Ummu Abdullah sebagai pengganti nama aslinya. Sedangkan ana pun tak dapat menampilkan alamat YM id nya ataupun alamat e-mailnya dikarenakan pertimbangan satu dan lain hal. Baiklah demikian mukadimmah dari ana selamat mengikuti, dan berikan komentar. Insya Alloh bila ada waktu kembali untuk menurunkannya ana akan memberikan catatan terhadap diskusi ini.

 

Afwan Jiddan transkrip Diskusi Dihapus, Karena Satu Dan Lain Hal. Harap maklum.

Barakallohufiikum kepada pihak yang telah mengkoreksi ana, tapi insya Alloh ana akan menyampaikan kebenaran sekalipun itu pahit. biidznillah

Walhamdulillah demikianlah isi dari transkrip yang ana cantumkan ini...mohon maaf bila ada pengeditan pada nama tempat dan lokasi yang memang tak dapat disebutkan, karena semata2 diskusi ini bukan untuk lain hal, melainkan ana berharap dari diskusi ini para pengunjung blog yang aneh ini dapat mengambil ibrah..

 

Wallahu ‘alam bishawwab..

 

 

                            

04/03/2007

Kajian di UIN Jakarta

Hadirilah Kajian Islam Ilmiah

 

Dengan Kitab

 

Syarh Ushul Tsalatsah

( Karya, Asy Syaikh Faqihul Ashr Muhammad bin Shalih Al Utsaimin )

 

Bersama  : Al Ustadz Abu Abdurrahman Abdulrahman

 

Hari   :  Senin, Insya Alloh Rutin

 

Waktu   :  Ba’da Ashar / 16.00 WIC

 

Tempat : Masjid Al Jamiah Student Center Universitas Islam Negeri Jakarta. Lantai Atas, Hijab Berwarna Hijau

( tanpa pengeras suara ).

 

Terbuka Untuk Umum

Ikhwan & Akhowat

 

Penyelenggara ;

 

FKI ASY SYIFA UIN JAKARTA

 

( Berdakwah Ditengah Syubhat, Istiqomah Diatas Sunnah )

 

Contact Person :

 


Abu Yahya Rizki : 0856 780 3627

 

Mirta E Fahmy : 0813 808 25347


 

 

01/03/2007

Kemuliaan Ilmu dan Pentingna Berilmu

Muadz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu berkata :

 

“ Belajarlah kalian akan ilmu, karena mempelajarinya karena Alloh merupakan khasy-yah (yakut) kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah, mempelajarinya kembali ilmu itu adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, dan mengajarkannya kepada orang yang belum tahu adalah shadaqah. Karena ilmu itu adalah petunjuk halal dan haram dan petunjuk jalan ahli surga. Ilmu itu penghibur di saat takut, teman di saat asing, teman bicara disaat sendiri, pedang yang menebas musuh, dan sebagai perhiasan disaat kosong (tak punya perhiasan apapun).

 

Dengan ilmu ini, Alloh mengangkat derajat suatu kaum sehingga Alloh jadikan mereka sebagai panutan dalam kebaikan, sebagai imam (pemimpin) yang diikuti jejaknya, tindak-tanduknya mereka ditauladani dan pemikiran mereka selalu dijadikan pegangan.

 

Malaikat senang menjadi sahabat karib mereka (penuntut ilmu, pen) dan meletakkan sayap-sayapnya untuk mengagungkan mereka (penuntut ilmu, pen). Seluruh yang basah maupun yang kering dan ikan-ikan di laut berikut binatang buasnya dan binatang-binatang ternak, semuanya memintakan ampun buat mereka (penuntut ilmu, pen). Karena ilmu itu penghidup hati yang bodoh dan penerang bagi pandangan yang gelap. Dengan ilmu ini seorang hamba bisa sampai kepada kedudukkan orang-orang pilihan dan derajat yang tinggi di dunia dan akhirat.

 

Tafakkur dalam ilmu sama halnya dengan puasa dan mempelajarinya sama halnya dengan qiyamullail. Dengan ilmu ini silaturahmi tersambung dan dengannya-lah diketahui mana yang halal dan mana yang haram. Ilmu adalah imam bagi amal, sedangkan amal pengikutnya, orang-orang yang diberi ilmu (dan mengamalkannya) adalah orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang diharamkan dari ilmu adalah orang yang bahagia. “

 

( Jami’ Bayanil Ilmi wal Fadhlihi 1 / 54-55, Al Imam Ibnu Abdil Barr )  

Meraih Kemulian Dengan Kemurnian Tauhid

Prolog

 

Thayyib, awalnya tulisan ini mau saya beri judul La Izzata Ila bi At Tauhid, dengan maksud untuk mendahulukan segala aspek dakwah, muamalah, ibadah, dan urusan syari’ah lainnya kepada tauhid, dan tidak memulainya dengan aspek yang lain dalam membenahi ummat. Dimana kita bisa melihat sebagian besar saudara kita muslim, sangat menggebu-gebu dan bersemangat dalam berupaya untuk mendirikan daulah Islam. Namun sangat disayangkan sebagian dari mereka justru tidak menyoroti hal ini ( tauhid ) lebih awal sebagai prioritas utama. Melainkan mereka ingin menjadikan Jihad, Daulah, Khilafah dan sebagainya sebagai prioritas utama.

 

Sehingga sangat disayangkan sekali, seandainya saja mereka mau merenungi dan menggunakan seluruh semangatnya tidak untuk hal-hal yang mubazir terlebih laisa minal Islam ( bukan dari Islam ), maka Insya Alloh kita akan dapat menyaksikan dan menyongsong kejayaan ummat lebih cepat dan menuai buah yang sempurna, dengan kokohnya akar keimanan dan terpancangnya batang kemurnian secara paripurna.

 

Selamat menikmati tulisan ini, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.

 

Pembahasan

 

Tauhid, adalah sesuatu yang paling mulia dan merupakan suatu prioritas yang paling utama dan paling awal dalam Islam. Dakwah seluruh Rasul dan Anbiya pertamakali ialah tentang At Tauhid, tentang mengesakan Alloh menjadi satu-satunya Dzat Yang Berhak Diibadahi oleh kaum muslimin dan menafikan sembahan-sembahan lain selain Alloh yaitu At Thaghut.

 

Ayat-ayat yang mendahulukan tentang wajibnya mendahulukan tauhid ialah diantaranya sangat banyak sekali di dalam Al Qur’an, diantaranya :

 

“ Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan ( yang berhak diibadahi)melainkan Alloh. “ ( QS. Muhammad : 19 )

 

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat ( untuk menyerukan ): ‘ Sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah thaghut. “ ( QS. An Nahl : 36 )

 

Adapun hadist-hadist yang berkaitan dengan pembinaan tauhid paling awal pun sangat banyak sekali, diantaranya ialah hadist yang paling masyhur ialah hadist ketika Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallama mengutus sahabat Muadz bin Jabal radhiayallohu’anhu, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallama bersabda :

 

“ Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Alloh saja, maka jika mereka menta’atimu dalam hal itu .....(dan seterusnya hingga akhir hadist tersebut) “ ( Muttafaqun Alaih ).

 

Asy Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani rahimahullah, mengatakan “ Jalan keluar dari semua problem ummat islam di dunia modern sekarang ini dan setiap waktu ialah hal yang mengharuskan kita untuk memulai dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallama, yaitu pertama-tama memperbaiki apa-apa yang telah rusak dari akidah kaum muslimin. Dan yang kedua ialah ibadah mereka, sedangkan yang ketiga adalah akhlak mereka “ ( Tauhid Awwalan Yaa Duatal Islam, terjemahan Indonesia. Tauhid Prioritas Pertama Dan Utama. hal 9  )

 

Namun belakangan ini munculnya gerakan-gerakan Islam yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Islam khususnya Indonesia; membuat ummat semakin bingung dan rancu dengan perkembangan Islam yang dilakukan oleh antar gerakan islam. Diantara gerakan-gerakan Islam tersebut justru ada yang memulainya tidak dengan pembinaan tauhid di awal dakwahnya atau yang lebih dikenal dengan Tashfiyah dan Tarbiyah, melainkan diantara mereka justru menganggap hal ini merupakan permasalahan kulit bukan permasalahan inti. Mereka membagi kondisi ummat ini dan kajiannya dengan permasalahan inti ( juz’iyyat) dan kulit (kulliyat). Bahwa memulai dakwah dengan tauhid adalah sebuah usaha yang sia-sia dan terlalu lambat dalam memajukan kondisi ummat Islam yang menurut dugaan mereka telah terpuruk.

 

Sehingga akhirnya mereka memulainya dengan permasalahan-permasalahan yang dapat membangkitkan ghirah ummat dengan cepat. Maka dihembuskanlah isu-isu tentang daulah islamiyyah, jihad fi sabilillah, masa’il waqi’iyyah, dimaqratiyyah harakiyyah, dan hizbiyyah al jadidah. Dimana hal itu mereka menganggap dapat mengembalikkan izzah ummat Islam. Sehingga akhirnya timbullah ketergesa-gesaan dan menimbulkan sikap saling menggampangkan terhadap ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka meremehkan kaum muslimin yang itisham bi sunnah dengan sungguh-sungguh dan terkadang mencibir dengan pandangan yang miris dan meremehkan dakwah kepada islam yang sebenarnya dengan tuduhan-tuduhan keji, jelek, dan kotor. Maka ketahuilah sesungguhnya usaha-usaha yang dilakukan oleh gerakan-gerakan dakwah Islam saat ini tidak akan berhasil dengan paripurna dan sempurna sebelum mereka kembali mendakwahkan tauhid terlebih dahulu diantara masalah lainnya. Sebab tauhidlah seperti apa yang dikatakan di awal inti dakwah para Nabi alaihimush shalatu wa sallam hingga akhir hayatnya.

 

Maka ketahui pula apabila dalam suatu masyarakat telah terciptanya kekokohan tauhid dan keimanan mereka telah kuat dan tak mudah goyah dengan segala macam syubhat niscaya Alloh akan menurunkan keberkahan pada penduduk tersebut, sebagaimana firman alloh subhanahu wa ta’ala “

 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..” ( QS. Al A’raaf : 96 )

 

Kejayaan ummat Islam akan kembali bila mengikuti generasi awal yang telah baik. Seperti  apa yang pernah dikatakan oleh Al Imam Malik rahimahullah dalam memberikan solusi agar kejayaan Islam dapat kembali kepada izzahnya. Perkataan beliau rahimahullah ialah “ tidak akan baik akhir ummat ini, sebelum kembali kepada apa-apa yang membuat baik generasi awal ummat ini “ (dinukil oleh Al Imam Asy Syathibi dalam Al Itishamnya).

 

Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang berfikir jernih dan memiliki keyakinan dalam mencari sebuah kebenaran. Sudah sepantasnya mereka memulai dakwahnya dan amal kesehariannya pertamakali ialah tauhid. Tauhidlah jalan awal yang menjadi landasan bagi setiap muslim dalam kehidupannya.

 

Wallahul muwaffiq.

 

 

 

17/02/2007

Saudaraku.... Sudahkah Engkau Ikhlaskan Seluruh Perbuatanmu

Seringkali kita mendengarkan sebagian orang mengatakan perkataan seperti “ saya mah ikhlas kalo di apa-apain.. ” atau juga perkataan “ saya gak ikhlas kalo dia sampai melakukan hal itu...” dan perkataan-perkataan lainnya yang semisal dengan itu. Umumnya pula masyarakat muslim di sekitar kita pun tidak mengerti dan memahami apa itu ikhlas yang sebenarnya dan bagaimanakah sesuatu dapat diakatakan ikhlas, maupun bagaimanakah pula caranya seseorang dapat menggapai predikat ikhlas. Sehingga pernah ada suatu film yang mengangkat tema ini, yang bercerita tentang seorang pria dimana ia berkeinginan untuk menikahi seorang gadis, namun sebelum dapat menikahinya si pria di haruskan oleh orang tua si gadis untuk dapat memiliki ilmu ikhlas.

 

Definisi ikhlas adalah memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Alloh azza wa jalla dari hal-hal yang mengotorinya. Arti lainnya; menjadikan Alloh azza wa jalla sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan. Atau; mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Al Khaliq. ( Tazkiyatun Nafs, Dr Ahmad Farid. Hal 1 )

 

Alloh subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang keikkhlasan di beberapa tempat di dalam Al Qur’an, diantaranya :

 

“ Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana dia Telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)". (QS. Al A’raaf : 29)

 

Di ayat yang lain Alloh berfirman :

 

“ Dan (aku Telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” ( QS. Yunus : 105 )

 

Dan masih ada beberapa tempat lain di dalam Al Qur’an yang menyebutkan tentang keutamaan ikhlas diantaranya, QS. Al Mukminuun : 14 dan 65, QS. Az Zumar : 2 dan 11, QS. At Tahrim : 8, maupun ayat yang paling masyhur dan sering diucapkan oleh para da’i di dalam tiap khutbahnya yaitu QS. Al Bayyinah : 5.

 

Sebagian ‘ulama seperti Al Imam Fudhail bin Iyadh dan Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan ikhlas termasuk merupakan syarat diterimanya amal dan ibadah. Keikhlasan disandingkan dengan ittiba’ yaitu mengikuti dengan benar apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahahu ‘alaihi wa sallam. Keikhlasan memiliki derajat yang agung dan kedudukan yang tinggi, sehingga Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat haji Wada’ sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallohu ‘anhu yaitu :

 

“ Semoga Alloh mencerahkan orang yang mendengar kata-kataku lalu menjaganya. Betapa banyak orang yang membawa pemahaman, tetapi ia sendiri tidak paham. Tiga hal yang seorang mukmin tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amal kepada Alloh, memberikan loyalitas kepada para pemimpin kaum muslimin, dan selalu bergabung dengan jama’ah mereka. “ ( HR. Al Bazzaar ) [1]

 

Setidaknya kita pun pernah mendengar hadist yang berbunyi tentang ketiga manusia yang dilemparkan oleh Alloh kedalam neraka disebabkan amalan-amalan yang dilakukan oleh mereka tidak diniatkan ikhlas karena Alloh. Diantaranya ialah seorang qari’ yang membaca Al Qur’an hanya untuk dikatakan bahwa ia adalah seorang yang bagus bacaanyna, adapula seorang mujahid yang hanya ingin dipanggil sebagai mujahid / pahlawan dan jihadnya itu tidak dilakukan karena Alloh, adapula seorang dermawan yang hanya ingin dipanggil sebagai orang yang baik dan hanya ingin diketahui oleh orang banyak bahwa ia adalah seorang dermawan.

 

Telah banyak atsar dan qaulus salaf tentang perkataan-perkataan yang menyatakan tentang keutamaan ikhlas, diantaranya :

 

Dari Musa bin Al Mu’alla, dia berkata : Hudzaifah berkata : “ Wahai Musa, ada tiga hal jika ketiuganya berada dalam dirimu maka tidak akan ada kebaikan yang turun dari langit kecuali hanya yang memang telah menjadi bagianmu. Pertama, hendaklah amal perbuatanmu ikhlas karena Alloh azza wa jalla. Kedua, hendaklah kamu mencintai manusia sebagaimana ketika kamu mencintai dirimu sendiri. Ketiga, hendaklah kamu mencari makananmu yang halal. “ ( Shifatush Shafwah IV / 269, Karya Abul Faraj Ali bin Al Jauzi ).

 

Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata : Hamdun bin Ahmad pernah ditanya : “ Mengapa perkataan orang-orang salaf bisa lebih bermanfaat dibandingkan dengan perkataan kita ?” Dia ( Hamdun bin Ahmad ) menjawab : “ Sebab mereka berbicara atas nama kejayaan Islam, dengan jiwa yang murni dan karena mencari ridha Dzat Yang Maha Pengasih. Sedangkan kita berbicara berdasarkan kejayaan pribadi, mencari dunia dan untuk mencari ridha makhluk. “ ( Shifatush Shafwah IV / 122 ).

 

Demikianlah sebagian dari perkataan teladan yang telah mendahului kita, dimana mereka ( para salafush shaleh )melakukan segala hal di dalam kehidupan mereka semata-mata hanya dilakukan untuk mengharapkan Wajah Alloh... dan saat ini pula sebagian ‘Aimmah Ahlusunnah yang hidup pada zaman mutaakhirin semisal Asy Syaikh Ibnu Baaz, Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin, Asy Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi, dan selainnya. Senantiasa melakukan selruh amalannya hanya untuk Alloh dan mengharapkan hanya RidhaNya. Setidaknya hal ini dapat kita temukan dalam berbagai mukaddimah kitab mereka yang terkadang berbunyi “ Semoga Alloh menjadikan amalanku hanya untuk mengharapkan WajahNya saja “

 

Lantas saudaraku, sudahkah saat ini kita telah melakukan hal yang sama dengan senantiasa menjaga segala bentuk amalan kita dari riya’, sum’ah, dan penyakit hati lainnya yang dapat menjadi sebab terhalangnya keridhaan Alloh kepada para hambaNya.

 

Yaa...keikhlasan yang tumbuh dari dalam diri dan tidak hanya sekedar perkataan tanpa arti dan makna. Dan jadikanlah pembeda dalam ucapanmu antara kerelaan dengan keikhlasan. Sebab keikhlasan adalah merupakan amalan hati dan hanya Allohlah yang tahu apakah ia itu ikhlas ataupun tidak.

 

Semoga kita semua terlindung dari hal seperti itu dan Alloh menjaga kita dan hati kita agar tetap di dalam keikhlasan dalam beribadah kepadaNya. 

 

Wallahul Muwaffiq..

 

Maraji’

 

Dimana Posisi Kita Pada Kalangan Salaf, Abdul ‘Aziz bin Nashirul Jalil & Bahauddin bin Fatih ‘Aqil. Penterjemah Wawan Djunaedi,  Penerbit Pustaka Azzam.

Tazkiyatun Nafs,  Dr. Ahmad Farid. Penterjemah Imtihan Asy Syafi’i, Penerbit Pustaka Arafah


Catatan Kaki

[1] HR. Al Bazzaar dengan isnad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya. Hadist ini shahih, dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dari berbagai jalan, As Sundiy berkata, “sebagian hadist ini telah diperbincangkan dalam Az Zawaaid. Akan tetapi matan-matannya nyata-nyata benar dari para imam. ( I / 104 ) Ibnu Hibban mencantumkan hadist ini dalam Al Mawaarid hal 47 dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu. Wallahu ‘alam

My Photo

hit list

November 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  

shoutbox


  • Name :
    Web URL :
    Message :

tag it

jadwal shalat


clock overview

  • waktu menunjukkan pukul :
Powered by Friendster Blogs
Member since 07/2005

Perhatian